7.09.2009

berbingkai adab

Bisikan lirih terdengar, dengan nada pelan dia berucap……. Dia meminta dengan permintaan yang sungguh-sungguh dari dalam hatinya. Ucapkan dengan lirih dan sungguh hampir tak terdengar… dia berdo’a. Dia tengadahkan wajahnya keatas seolah ia melihat sang Raja Alam Semesta, Raja dari segala raja. Sungguh-sungguh dari dalam hatinya, dan tak sejengkalpun ia keluar dari keyakinannya. Ia bukan meminta tuk menggenggam dan meletakkan dunia ditangannya, tapi ia meminta tuk menjadi insan yang beradab, ia meminta selamat dari siksa dan tempat segala macam siksaan yang kekal abadi selama-lamanya, karena kerusakan yang diakibatkan oleh kebanyakan tangan manusia. Sungguh dengan berbingkai adab……… dia berucap. Dalam kegelapan ia berucap syukur yang benar-benar syukur kepada-Nya. Dalam cerah dan terangnya sang penerang bumi ia melaksanakan syukurnya, tiada tempat bagi hatinya tuk menorehkan noda yang ia sengaja…..sungguh dengan berbingkai adab, ia insan yang dirindukan.
Banyak cerita yang tiap-tiap hari ia temui, dari sekian banyak orang yang berkata, tapi tak paham apa yang orang itu katakan. Tapi dengan berbingkai adab, ia tertunduk dengan benar-benar iman didalam dadanya. Tak sekalipun ia berkata apa yang tidak sesuai dengan yang ia kerjakan. Tiap katanya adalah cermin perbuatannya, sungguh ia insan yang dirindukan, ia insan yang dirindukan untuk mengayomi bumi ini. Memberi rasa damai dalam diri tiap-tiap orang, tanpa mengenal siapapun dia. Ia menangis ketika bumi rusak oleh tangan manusia, ia menunduk malu ketika melihat orang-orang yang menganiaya dirinya sendiri, meskipun orang itu berselimut harta. Sungguh mulia dan bijak hatinya, mulia bukan karena harta, tapi karena budi dan bingkai adabnya. Harta bukan tujuan hidupnya, meskipun ia juga butuh harta.