Ketika rindu berselimut mimpi
Dia membaur bersama angin
Laksana siang beralih malam
Hadirkan ruang lupakan angan
Rindu itu hanya bayangan
Semu namun nampak dekat
Rindu itu sebatas godaan
Tak dirasa semakin kuat
Jiwaku kini kaugenggam
Tertancap diruang jiwa yang terdalam
Takkan goyah diterpa zaman
Karena tertulis diatas awan
Rindu bukanlah pemisah keadaan
Tapi dialah pengikat perasaan
Menjadi dermaga setiap insan
Dan penyambung luasnya lautan
8.18.2013
................Malam.........…
Malam.......
Semakin lama semakin terang
Bersaing dengan siang yang benderang
Seolah tak akan ada perbedaan
Malam.........
Kini tak terdengar lagi derikan jangkrik
Kini tak terlihat lagi kelelawar berterbangan
Bahkan kunang-kunagpun tak sanggup berkedip
Malam......
Tak lagi nampak iring-iringan obor
Dari muda-mudi yang pulang dari surau
Tuk melepas kewajiban bagi sang kholik
Malam.......
Kini dihiasi gerombolan wanita muda ber rok mini
Dengan baju ketat tebus pandang
Bahkan lakunya angkuh bak ratu romawi
Malam.....
Ironi kemajuan jaman
Yang bangkitkan nurani syetan
Bagi tiap insan yang melupakan.
Semakin lama semakin terang
Bersaing dengan siang yang benderang
Seolah tak akan ada perbedaan
Malam.........
Kini tak terdengar lagi derikan jangkrik
Kini tak terlihat lagi kelelawar berterbangan
Bahkan kunang-kunagpun tak sanggup berkedip
Malam......
Tak lagi nampak iring-iringan obor
Dari muda-mudi yang pulang dari surau
Tuk melepas kewajiban bagi sang kholik
Malam.......
Kini dihiasi gerombolan wanita muda ber rok mini
Dengan baju ketat tebus pandang
Bahkan lakunya angkuh bak ratu romawi
Malam.....
Ironi kemajuan jaman
Yang bangkitkan nurani syetan
Bagi tiap insan yang melupakan.
Sudah........... Terlalu lama kau membelenggunya
Mentari pagi terasa begitu terik
Kala menapaki dunia yang begitu menggoda
Senja... menandai akhir hari ini
Namun diri seolah tak mengerti
Mata hati pun seolah terpejam
Tanpa pandangan, hampa tujuan
Membelenggu hati tanpa sanubari
Berjalan sendiri menembus mimpi
Namun, Diri hampa tanpa rasa
Hanya tujuan duniawai yang ketara
Sungguh hamba yang lupa
Bahwa dosa selalu menggoda
Sudahlah,... Terlalu lama kau membelenggunya
Dalam hati yang seharusnya hakiki
Sudahlah.... Bahwa dunia hanya permata diujung pedang
Indah, namun hanya fatamurgana
Kini, mentari pagi bersinar begitu sejuknya
Kala menapaki seruan yang begitu sempurna
Membawa manusia sujud dalam kehambaannya
Dan kan warnai setiap tujuan hidupnya
Hati hambapun begitu cerah menatap hidup
Menjalani setiap takdir dengan kesyukuran
Dan duniapun bukanlah tujuan
Sebab hanya sarana menjalani kehidupan.
Kala menapaki dunia yang begitu menggoda
Senja... menandai akhir hari ini
Namun diri seolah tak mengerti
Mata hati pun seolah terpejam
Tanpa pandangan, hampa tujuan
Membelenggu hati tanpa sanubari
Berjalan sendiri menembus mimpi
Namun, Diri hampa tanpa rasa
Hanya tujuan duniawai yang ketara
Sungguh hamba yang lupa
Bahwa dosa selalu menggoda
Sudahlah,... Terlalu lama kau membelenggunya
Dalam hati yang seharusnya hakiki
Sudahlah.... Bahwa dunia hanya permata diujung pedang
Indah, namun hanya fatamurgana
Kini, mentari pagi bersinar begitu sejuknya
Kala menapaki seruan yang begitu sempurna
Membawa manusia sujud dalam kehambaannya
Dan kan warnai setiap tujuan hidupnya
Hati hambapun begitu cerah menatap hidup
Menjalani setiap takdir dengan kesyukuran
Dan duniapun bukanlah tujuan
Sebab hanya sarana menjalani kehidupan.
Insan Yang Lupa
Dua kaki ini melangkah tanpa lelah
Diiringi sejuknya hembusan angin
Menyusuri sungai-sungai yang membelah
Dalam hutan rimba tanpa kawan
Jejaknya masih nampak
Tatkala menyusuri panasnya gurun
Menapaki setiap jengkal artefak
Dalam Indahnya Penghidupan
Gua-gua menganga lambaikan tangan
Seolah Bagaikan Istana Raja
Menjadi rumah sang pengembara
Tuk lepaskan lelahnya badan
Namun, Serakahnya jiwa hadirkan petaka
Bertopeng dewa, namun durjana
Bahkan wajahnya bak arjuna
Dia Lakukan demi dunia
Demi Sepiring hidangan istimewa
Dia Abaikan PEMBAWA BERITA
Bahkan Dia Jual Agamanya
Sungguh Insan Yang Lupa
Diiringi sejuknya hembusan angin
Menyusuri sungai-sungai yang membelah
Dalam hutan rimba tanpa kawan
Jejaknya masih nampak
Tatkala menyusuri panasnya gurun
Menapaki setiap jengkal artefak
Dalam Indahnya Penghidupan
Gua-gua menganga lambaikan tangan
Seolah Bagaikan Istana Raja
Menjadi rumah sang pengembara
Tuk lepaskan lelahnya badan
Namun, Serakahnya jiwa hadirkan petaka
Bertopeng dewa, namun durjana
Bahkan wajahnya bak arjuna
Dia Lakukan demi dunia
Demi Sepiring hidangan istimewa
Dia Abaikan PEMBAWA BERITA
Bahkan Dia Jual Agamanya
Sungguh Insan Yang Lupa
Kendil atau Gentong
Mata air ini mengalir dengan jernihnya,
Meskipun sumbernya kecil, namun tanpa henti
Sepotong bambu kering nampak menengadah
Menampung setiap tetesan air tanpa henti
Sebuah Gerabah Coklat tua yang mengkilat
Nampak berada tepat dibawah mulut bambu
Menunggu sejuknya air tuk penghidupan
Menyegarkan setiap hamba yang kelelahan
Dipucuk batu itu, nampak seorang anak lugu
Ditemani seorang paruh baya laksana guru
Sambil menunggu, dia membaca ilmu
Sekejap wajahnya nampak kusam sambil termangu
Ya,.... Kendiku telah terisi penuh....
Sampai-sampai airnya tumpah..........
Lalu dengan pelan dia berucap...
Kenapa kendilku terlalu kecil...
Sehingga aku harus balik 8 kali
Tuk mengisi gentong ini.....
Dan........ Paruh bayapun menyapa
Itulah kemampuanmu nak,....
Janganlah kau paksakan membawa gentong ini dipundakmu
Karena, Kemampuanmu sebatas kendil ini....
Meskipun sumbernya kecil, namun tanpa henti
Sepotong bambu kering nampak menengadah
Menampung setiap tetesan air tanpa henti
Sebuah Gerabah Coklat tua yang mengkilat
Nampak berada tepat dibawah mulut bambu
Menunggu sejuknya air tuk penghidupan
Menyegarkan setiap hamba yang kelelahan
Dipucuk batu itu, nampak seorang anak lugu
Ditemani seorang paruh baya laksana guru
Sambil menunggu, dia membaca ilmu
Sekejap wajahnya nampak kusam sambil termangu
Ya,.... Kendiku telah terisi penuh....
Sampai-sampai airnya tumpah..........
Lalu dengan pelan dia berucap...
Kenapa kendilku terlalu kecil...
Sehingga aku harus balik 8 kali
Tuk mengisi gentong ini.....
Dan........ Paruh bayapun menyapa
Itulah kemampuanmu nak,....
Janganlah kau paksakan membawa gentong ini dipundakmu
Karena, Kemampuanmu sebatas kendil ini....
---------------------Hanya Super Moon Ini Yang Bisa Kami Nikmati-----------
Membumbung melayang terbang sang angin membawa debu jauh keangkasa,
seolah burung tak bersayap yang mampu melawan gravitasi, berputar-putar
diangkasa menunggu derasnya hujan tuk turun kembali ke bumi,...
sementara diatas sana... super moon kembali datang dan ciptakan cahaya
terang bagai diujung jalan, sebab terlalu dekatnya dengan bumi.
Bintang-bintang menyapa dengan kedipan khas yang tetap sama sepanjang
masa, dengan ditemani langit cerah membiru dan bergelombang awan putih
yang nampak indah,... sementara disini........... anak-anak dengan riang
bermain di halaman rumah,..... seolah hari ini malam tidak akan datang,
...... Para orang tuapun saling berbincang dikursi kayu panjang seolah
penjaga malam yang matanya selalu terang, pohon palm dengan bunga
anggrek tegantung yang sedang mekar, warnanya ungu kemerah merahan pada
tepinya, .... nampak tebal dan tak mudah layu.....Sementara dari dalam
rumah terdengar alunan musik klasik disertai desiran jangkrik yang cukup
serasi,..... Ya..... Inilah lagu mahameru yang dengan indahnya
dilantunkan , seraya terbata – bata ,,.... bibir inipun mencoba
mengikutinya “ Mahameru.. berikan damainya, didalam beku
Arcapada....... Mahameru sebuah legenda tersisa Puncak abadi para
dewa............. Masihkah terbesit asa .. anak cucuku mencumbui
pasirnya, disana nyalimu teruji oleh ganas cengkraman hutan rimba......”
Dan pun bagaikan hewan liar yang selalu menjaga keseimbangan
alam........... Inilah syair Liar untuk bangsa dan negara yang mulai
gersang... gersang budi pekertinya, gersang pemikirannya, pun mulai
gersang alamnya..... Laksana Bumi borneo yang penuh lubang sebab
perutnya diangkat demi pundi-pundi emas digenggaman bangsawan yang
selalu lapar harta....... janganlah kau renggut super moon ini, sebab
hanya ini yang bisa kami nikmati.... karena hutan yang dulu hijau dan
lebat kini telah berubah menjadi danau-danau dalam yang gersang...
Biarlah hanya ini yang bisa kami nikmati, karena Nikmatnya dunia belum
tentu menghadirkan nikmatnya surga.........
3.16.2013
Gapura Hidup
Berjalan
beriring menuju gapura
Jalannya lurus
dengan pasir halus seolah menyapa
Tanpa
sedikitpun kerikil tajam yang menghalangi
Dengan sedikit
rumput liar yang tertata rapi
Hewan kecilpun turut bernyanyi
Seolah mengantar diri menuju
mimpi
Menuntun setiap diri turut
bernyanyi
Menuju gapura yang penuh arti
Jalan ini,
adalah jalan kesyukuran yang selalu dinanti
Oleh setiap
hamba yang inginkan hati yang suci
Dalam sejuknya
jiwa yang selalu punya norma
Dengan
banyaknya jalan terjal dalam dunia
Jalan itu tidak menawarkan
kemegahan dunia
Namun akan menghadirkan dunia
dalam jiwa
Jalan itu tidak janjikan
kenikmatan dunia
Namun akan menghadirkan
Nikmatnya dunia
Perjalanan Penuh Makna
Menerjang
teriknya mentari diujung pagi
Membimbing
kaki ini melangkahkan nurani
Meskipun
telapaknya perih kadang tertusuk duri
Namun Nurani
tak akan pernah mati
Melayang selendang pencari rizki
Tangannya gemulai mengayun
jemari
Diiringi gamelan tua ajak tuk
menari
Dengan wanita tua yang setia
bernyanyi
Dari jauh.....
Berjalan payah paruh baya
Dengan Pakaian
coklat lusuh penuh noda
Dengan pasrah
sandarkan diri diujung senja
Lalu Beranjak
Pelan menuju do’a
Dia lepaskan pakaian lusuhnya
dan segera berganti
Dengan Pakaian putih bersih nan
suci
Walaupun bukan nampak oleh mata
Namun selalu nampak suci dalam
jiwa
Dengan senang
gembira dia menuju surau
Wajahnya
tenang laksana tanpa beban
Dengan senyum
sumringah haturkan salam
Seorang paruh
baya hamba Tuhan
Lanner_04
Langganan:
Postingan (Atom)


