Dua kaki ini melangkah tanpa lelah
Diiringi sejuknya hembusan angin
Menyusuri sungai-sungai yang membelah
Dalam hutan rimba tanpa kawan
Jejaknya masih nampak
Tatkala menyusuri panasnya gurun
Menapaki setiap jengkal artefak
Dalam Indahnya Penghidupan
Gua-gua menganga lambaikan tangan
Seolah Bagaikan Istana Raja
Menjadi rumah sang pengembara
Tuk lepaskan lelahnya badan
Namun, Serakahnya jiwa hadirkan petaka
Bertopeng dewa, namun durjana
Bahkan wajahnya bak arjuna
Dia Lakukan demi dunia
Demi Sepiring hidangan istimewa
Dia Abaikan PEMBAWA BERITA
Bahkan Dia Jual Agamanya
Sungguh Insan Yang Lupa


