Berselendang
menyelimuti dinginnya malam,
Menabur
sekeliling pekarangan dengan Cahaya
Tak berharap
rembulan redup tertutup awan
Sebab ini
purnamamu diakhir bulan,
Melayang-layang
binatang malam,
Berbaur dengan
sepoinya angin yang tak kunjung diam.
Selendang
inipun terbang laksana sayap
Mengajak
bercumbu dengan sinarmu.
Berlalu-lalang
besi-besi mesin......
Menggebu-gebu
seakan berburu.
Mengejar waktu
yang terus melaju
Tanpa sadar
indah sinarmu..
Biarlah malam
ini aku mencumbumu
Dibawah
terasku berteman kerinduan..
Mengenang
menelisik dalam jiwa,
terkubur
kerinduan dahulu kala...
dalam masa
kanak yang penuh rasa,
kini binasa
bersama gemerlapnya cahaya kota,
sehingga
hadirnya cahaya purnama ini bagai tak bermakna..
Ya.........
Cahaya kota yang melenyapkan keramahan bangsa.
Dan Merenggut
Canda tawa nenek kakek kita.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar