3.09.2009

Seketika


Ketika angin menyapa genit,
Ketika silaumu menjauhi langit,
Lalu berlinang lirih air matamu,
Takkan mampu hilangkan kelu,

Seketika,
Kaki melangkah tinggalkan resah,
Berteman dinginnya angin yang basah,
Dalam gulitanya hati yang gundah,

Aku bukanlah angin malam,
Yang datang tinggalkan suram
Lalu pergi seiring fajar pagi.
Diterpa cahaya pagi penuh energi.

Dan, seiring cahaya pagi
Disitu berjuta harapan menanti
Bagi jiwa yang tak takut mati
Dalam Keimanan hati nurani.

My Posting @ Yahoo.Answer
LanneR_04

Tidak ada komentar: