Ketika angin
menyapa genit,
Ketika silaumu
menjauhi langit,
Lalu berlinang
lirih air matamu,
Takkan mampu
hilangkan kelu,
Seketika,
Kaki melangkah
tinggalkan resah,
Berteman
dinginnya angin yang basah,
Dalam
gulitanya hati yang gundah,
Aku bukanlah
angin malam,
Yang datang
tinggalkan suram
Lalu pergi
seiring fajar pagi.
Diterpa cahaya
pagi penuh energi.
Dan, seiring
cahaya pagi
Disitu berjuta
harapan menanti
Bagi jiwa yang
tak takut mati
Dalam Keimanan
hati nurani.
My Posting @
Yahoo.Answer
LanneR_04



Tidak ada komentar:
Posting Komentar